Kesaksian bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujurat [49]: 15)

Menegakkan shalat

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), [Q.S Ar-Ra'ad 13 :22]

Menunaikan zakat

“Ambillah dari harta mereka sedekah / zakat, untuk membersikah mereka serta menghapus kesalahan mereka” (QS At Taubah [9]: 103).

Puasa Ramadhan

“Hai orang2 yang beriman, diwajibkan bagimu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan pada orang2 sebelum kamu. Mudah2an kamu bertakwa” (Al -Baqarah:183)

Haji bagi yang mampu

“Haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu melakukan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa yang mengingkari (kewajiban haji), sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan apapun) dari semesta alam”. (QS. Ali Imran: 97)

Wednesday, 2 April 2014

Rib’i bin ‘Amir Bertemu dengan Raja Persia



SEBELUM terjadi peperangan Qadisiyah antara tentara Muslimin pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu dengan tentara Persia pimpinan Rustum, Sa’ad terlebih dulu mengirim utusan kepada Rustum beberapa kali. Di antara utusan tersebut adalah Rib’i bin ‘Amir Ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu.
Maka Rib’i pun segera masuk menemui Rustum sementara mereka telah menghiasi pertemuan itu dengan bantal-bantal yang dirajut dengan benang emas, serta permadani-permadani yang terbuat dari sutera. Mereka mempertontonkan kepadanya berbagai macam perhiasan berupa yaqut, permata-permata yang mahal, dan perhiasan lain yang menyilaukan mata, sementara Rustum memakai mahkota dan sedang duduk di atas ranjang yang terbut dari emas.
Berbeda keadaannya dengan Rib’i. Ia masuk dengan hanya mengenakan baju yang sangat sederhana, dengan pedang, perisai, dan kuda yang pendek. Rib’i masih tetap di atas kudanya hingga menginjak ujung permadani. Kemudian Ia turun serta mengikatkan kuda tersebut di sebagian bantal-bantal yang terhampar. Setelah itu Ia langsung masuk dengan senjata, baju besi, dan penutup kepalanya.
Mereka berkata, “Letakkan senjatamu!”
Ia menjawab, “Aku tidak pernah berniat mendatangi kalian tetapi kalianlah yang mengundangku datang kemari. Jika kalian memerlukanku maka biarkan aku masuk dalam keadaan seperti ini. Jika tidak kalian izinkan, maka aku akan segera kembali.”
Rustum berkata, “Biarkan dia masuk.”
Maka Rib’i datang sambil bertongkat dengan tombaknya dalam keadaan posisi ujung tombak ke bawah sehingga bantal-bantal yang dilewatinya penuh dengan lubang-lubang bekas tombaknya.
Mereka bertanya, “Apa yang membuat kalian datang ke sini?”
Ia menjawab:
الله ابتعثنا لنخرج من شاء من عبادة العباد إلى عبادة الله، ومن ضيق الدنيا إلى سعتها، ومن جور الاديان إلى عدل الاسلام، فأرسلنا بدينه إلى خلقه لندعوهم إليه، فمن قبل ذلك قبلنا منه ورجعنا عنه، ومن أبى قاتلناه أبدا حتى نفضي إلى موعود الله.
“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kezhaliman agama-agama kepada keadilan Al-Islam. Maka Dia mengutus kami dengan agama-Nya untuk kami seru mereka kepadanya. Maka barangsiapa yang menerima hal tersebut, kami akan menerimanya dan pulang meninggalkannya. Tetapi barangsiapa yang enggan, kami akan memeranginya selama-lamanya hingga kami berhasil memperoleh apa yang dijanjikan Allah”
Mereka bertanya, “Apa yang dijanjikan Allah (kepada kalian)?”
Ia menjawab, “Surga bagi siapa saja yang mati dalam memerangi orang-orang yang enggan dan kemenangan bagi yang hidup.
Rustum pun berkata, “Sungguh aku telah mendengar perkataan-perkataan kalian. Tetapi maukah kalian memberi tangguh perkara ini sehingga kami mempetimbangkannya dan kalian pun mempertimbangkannya?”
Ia menjawab, “Ya, berapa lama waktu yang kalian sukai? sehari atau dua hari?”
Rustum menjawab, “Tidak, tetapi hingga kami menulis surat kepada para petinggi kami dan para pemimpin kaum kami.”
Maka ia pun menjawab, “Rasul kami tidak pernah mengajarkan kepada kami untuk menangguhkan peperangan semenjak bertemu musuh lebih dari tiga (hari). Maka pertimbangkanlah perkaramu dan mereka, dan pilihlah satu dari tiga pilihan apabila masa penangguhan telah berakhir.”
Rustum bertanya, “Apakah kamu pemimpin mereka?”
Ia menjawab, “Tidak, tetapi kaum muslimin ibarat jasad yang satu. Yang paling rendah dari mereka dapat memberikan jaminan keamanan terhadap yang paling tinggi.”
Maka akhirnya Rustum mengumpulkan para petinggi kaumnya kemudian berkata,”Pernahkah kalian melihat (walau sekali) yang lebih mulia dan lebih benar daripada perkataan lelaki ini?”
Mereka menjawab, “Kami minta perlindungan Allah dari (supaya engkau tidak) terpengaruh kepada sesuatu dari (ajakan) ini dan dari menyeru agamamu kepada (agama) anjing ini. Tidakkah engkau melihat kepada pakaiannya?”
Rustum menjawab, “Celaka kalian! Janganlah kalian melihat kepada pakaian. Akan tetapi lihatlah kepada pendapat, perkataan, dan jalan hidupnya! Sesungguhnya orang ‘Arab menganggap ringan masalah pakaian dan makanan. Tetapi mereka menjaga harga diri mereka.”

Wallahu a’lam bis shawwab.
Maraji’:
[1] Al-Bidayah Wa An-Nihayah karya Ibnu Katsir versi Asy-Syamilah 7/46
[2] Al-Bidayah Wan Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin 256-258 (terbitan Darul Haq).
[3] Tarikh At-Thabari versi Asy-Syamilah 3/33.

Gravitasi dan Rasi



Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, bahwa Hiraklius mengirim surat kepada Mu'awiyah dan berkata,"Jika ditengah-tengah mereka masih ada sedikit bukti kenabian, maka mereka tentu memberitahuku tentang apa saja yang aku tanyakan kepada mereka." Ia lalu mengirim surat kepadanyalagi dan bertanya tentang rasi bintang, gaya gravitasi, dan lembah yang tidak pernah terkena cahaya matahari, melainkan hanya satu jam.

Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma berkata, "Ketika surat itu itu tiba ditangan Mu'awiyah, ia berkata, 'Aku tidak menguasai hal itu. Siapa yang mengerti tentang hal itu?' Lalu dikatakan, 'Ibnu Abbas'."

Surat itu lalu dikirim kepada Ibnu Abbas, dan dia kemudian menulis surat (untuk menjawab pertanyaan) kepada Hiraklius, "Gravitasi adalah pengaman bagi penghuni bumi dari bahaya tenggelam. Rasi langit adalah pintu langit yang berguna untuk membukanya. Adapun lembah yang tak terkena cahaya matahari melainkan hanya satu jam dalam sehari, adalah laut yang menyelamatkan bani Israil."

Dalam atsar marfudar’i, Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه, ia berkata,

“Jika kalian mendengar petir, berdzikirlah kepada Allah, karena petir tidak akan mengenai ahli dzikir.” [HR. Imam Malik]

Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah

Penciptaan Seluruh Lapisan Langit Dengan Segala Tanda-Tanda Yang Ada Padanya

05 - Bintang

Allah menciptakan bumi terlebih dahulu sebelum menciptakan langit, sebagaimana firman-Nya:
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)
Imam al-Bukhari berkata (didalam kitab Shahihnya) tentang awal penciptaan makhluk, “Qatadah berkata mengenai firman Allah Ta’ala:
‘Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang….”‘ (QS. Al-Mulk: 5)
Allah menciptakan bintang-bintang tersebut untuk tiga hal: sebagai penghias langit, sebagai alat pelempar syetan, dan sebagai tanda untuk mengetahui arah.”‘
Barangsiapa yang membebankan dirinya menafsirkan selain dari yang tiga ini, yaitu berupa pengetahuan tentang hukum-hukum tertentu berdasarkan pada gerakan-gerakan yang ditunjukkan oleh bintang, menghubung-hubungkan satu peristiwa dengan perjalanannya, dan bahwa hal itu menunjukkan atas peristiwa-peristiwa bumi, maka ia salah. Kesalahan itu disebabkan perbincangan mereka mengenai ini umumnya penuh dengan dugaan dan prakiraan-prakiraan dusta serta klaim-klaim batil. Bintang-bintang yang ada semuanya berada di langit yang dekat.
Tidak ada masalah jika satu langit berada di atas langit yang lain, lalu langit yang dekat diistimewakan dari lapisan langit yang lain dengan hiasan bintang-bintang. Wallahu a’lam.
Alangkah indahnya bait syair milik Zaid bin ‘Amr bin Nufail yang dipaparkan oleh al-Imam Muhammad bin Ishaq di awal kitab sirah, yang menceritakan tentang penciptaan langit, bumi, matahari, bulan, dan lainnya.
Ibnu Hisyam berpendapat bahwa bait-bait syair tersebut adalah milik Umayyah bin Abi ash-Shalt. Berikut syairnya:
“Kepada Allah aku persembahkan segenap pujian dan sanjunganku serta ucapan yang teguh dada henti sepanjang masa.
Aku memohon rahmat-Mu, ya Allah. Sesungguhnya Jin adalah tumpuan harapan mereka, sedang Engkau adalah Tuhanku dan tumpuan harapanku.
Berkat karunia dan rahmat-Mu,
Engkau mengutus seorang rasul yang berseru kepada Musa.
Lalu Engkau berkata kepadanya: ‘Pergilah bersama Harun, serulah Fir’aun kepada Allah, yang ia telah melampaui batas.
Katakan kepadanya: ‘Apakah engkau yang meratakan (bumi) ini
Tanpa pasak hingga kokoh seperti kini?’
Katakan kepadanya: ‘Apakah engkau yang meninggikan (langit) ini tanpa tiang? Betapa hebatnya engkau sebagai pencipta!’
Katakan kepadanya: ‘Apakah egkau yang meratakan tengahnya (langit), sehingga ia bersinar menjadi petunjuk ketika malam tiba.’
Katakan kepadanya: ‘Siapakah yang menerbitkan matahari di pagi hari sehingga bumi yang disentuh memancarkan kemegahannya.’
Katakan kepadanya: ‘Siapakah yang menumbuhkan biji-bijian didalam tanah, lalu darinya (biji-bijian) menjadi tunas yang tumbuh di permukaan bumi, lantas darinya keluar bebijian di pucuk-pucuknya.’
Pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi siapa yang menyadari.
Engkau dengan segala karunia-Mu telah menyelamatkan Yunus yang tinggal di dalam perut ikan beberapa malam.
Wahai Tuhanku, karuniakanlah satu pemberian dan rahmat kepadaku serta berkatilah anak-anakku dan hartaku.”

Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah

Penciptaan al 'Arsy, Langit & Bumi, Lautan & Sungai-Sungai

PENCIPTAAN AL-’ARSY
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash, ia berkata:
“Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” [HR.Muslim 4797]
Beliau juga bersabda, “Dan ‘Arsy-Nya berada di atas air.” [HR.Muslim 4797]
Mereka berkata, “Takdir ini adalah catatan-Nya dengan al-Qalam (pena) seluruh takdir.”
Hadits ini menunjukkan bahwa penetapan takdir itu ada setelah penciptaan al ‘Arsy. Maka tetaplah bahwa penciptaan al-’Arsy itu lebih dahulu dibanding penciptaan al Qalam yang dengannya segala takdir ditulis. Demikian pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama.
Adapun hadits al-Qalam dibawa kepada makna bahwa ia adalah makhluk yang pertama yang ada di alam ini. Wallahu Subhanahu wa Ta’ala A’lam.
Berikut syair ‘Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu (mengenai al-’Arsy):
“Aku bersaksi bahwa janji Allah adalah haq.
Bahwa neraka itu hunian orang-orang kafir.
Bahwa al-’Arsy itu berputar di atas air.
Dan di atas al-’Arsy Rabb semesta alam.
Dia diusung oleh para malaikat yang mulia.
Para malaikat Ilah yang memakai tanda.”
PENCIPTAAN LANGIT & BUMI
01 - Langit Bumi
“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy….” (QS. Al-A’raf: 54)
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang kadar (lamanya) enam masa yang ada pada ayat di atas dalam dua pendapat: Mayoritas mereka berpendapat bahwa enam masa itu kadamya sama dengan hari-hari yang kita jalani ini. Sedangkan Ibnu ‘Abbas dan lainnya berpendapat bahwa masing-masing dari masa (hari) tersebut sebanding dengan seribu tahun hitungan kita.
PENCIPTAAN LAUTAN & SUNGAI-SUNGAI
03 - Sungai Eufrat
Sungai Eufrat
Para pakar astronom dan perbintangan memperbincangkan tentang berbilangnya lautan dan sungai-sungai besar, asal-usulnya, Sumber airnya, serta ke mana berakhimya aliran air tersebut dengan perbincangan yang di dalamnya mengandung hukum dan beragam petunjuk atas kekuasaan Allah Ta’ala.
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat sungai yang (airnya) dipancarkan dari surga, yaitu: Eufrat, Nil, Saihan, dan jaihan.”[HR.Imam Ahmad dalam Musnadnya 7229]
Seolah-olah yang dimaksudkan dari hadits ini -wallahu a’lam- bahwa sungai-sungai tersebut serupa dengan sungai-sungai yang berada di surga dalam hal kejernihan, ketawaran, dan cara mengalimya.
Bersambung Insyaallah..
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah

Tuesday, 1 April 2014

Ketabahan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam




Suatu hari, setelah Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdakwah di kabilah Ibnu Abdi Ya Lail bin Abdi Kulal dan beliau diusir, beliau begitu berduka dan gundah. Beliau berjalan gontai, hingga tiba di daerah Qarni Ats Tsa’alib.

Tiba-tiba beliau merasa ada awan yang menaunginya, sehingga beliau segera menengadah ke langit. Ternyata Malaikat Jibril menampakan dirinya dari balik awan dan segera menyapanya dan berkata:
إنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ قد سمع قولَ قومِك لك وما رَدُّوا عليكَ . وقد بعث إليك ملَكَ الجبالِ لتأمرَه بما شئتَ فيهم
Sejatinya Allah telah mendengar tanggapan dan sikap kaummu terhadap seruan dakwahmu. Karena itu Allah mengutus Malaikat penunggu gunung untuk engkau perintahkan sesuka hatimu
Segera Malaikat penungggu gunung menyapa aku dan berkata:
يا محمدُ ! إنَّ اللهَ قد سمِع قولَ قومِك لكَ . وأنا ملَكُ الجبالِ . وقد بعثَني ربُّك إليك لتأمرَني بأمرِك . فما شئتَ ؟ إن شئتَ أن أُطبقَ عليهم الأخشبَينِ
Wahai Muhammad! Allah telah mendengar tanggapan dan ucapan kaummu kepadamu, sedangkan aku adalah Malaikat yang ditugasi mengurusi gunung. Aku diutus untuk engkau perintahkan apa saja yang engkau suka. Bila engkau suka, niscaya aku akan timpakan dua gunung Akhsyabain kepada mereka
Mendapat penawaran ini, Nabi tidak merendah diri dan tidak membalaskan perasaannya. beliau menunjukkan sikap seorang yang memiliki jiwa besar. Beliau lebih memilih untuk memaafkan dan kemberi tangguh. Bahkan beliau membalas kejelekan dengan kebaikan.
Beliau menjawab tawaran Malaikat Penunggu gunung dengan bersabda,
بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Tidak, bahkan Aku sangat berharap semoga Allah melahirkan dari mereka orang-orang yang akan beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun
(HR. Bukhari – Muslim)
Begitu besar jiwa beliau, shallallahu alaihi wa sallam. Demikian juga ketika usai dari perang Uhud, yang padanya beliau terluka di wajah dan daninya, beliau juga membuktikan kebesaran jiwanya. Sambil mengusap darah dari wajahnya beliau berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ
Ya Allah, ampunilah ( jangan Engkau timpakan siksa yang membinasakan/beri tangguh) kaumku, karena sejatinya mereka adalah orang-orang yang tidak tahu‘ (Muttafaqun alaih)
Ya Allah, lapangkan dada kami untuk dapat meneladani akhlaq Nabi- Mu. Amiin.

Biografi Imam Al-Baihaqi






Imam Al Baihaqi adalah seorang ulama ahli fiqh, ushul fiqh, hadist, dan salah seorang ulama besar mazhab Syafi’i. Beliaulah penulis kitab Sunan Al Baihaqi yang terkenal itu.

Nama Beliau

Imam Al-Baihaqi bernama lengkap Imam Al-Hafizh Al-Muttaqin Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali bin Musa Al-Khusrauijrdi Al-Khurasani Al-Baihaqi. Baihaq adalah sejumlah perkampungan di wilayah Naisabur. Beliau adalah seorang ulama besar dari Khurasan (desa kecil di pinggiran kota Baihaq) dan penulis banyak kitab terkenal.

Kelahiran Beliau

Al-Baihaqi lahir di bulan Sya’ban tahun 384 H yang bertepatan dengan bulan September 994 Masehi1. Lahir di desa Khusraujirdi, termasuk daerah Baihaq, Naisabur.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Imam Al-Baihaqi hidup pada masa Daulah Al-‘Abbasiyah. Beliau mengembara mencari ilmu ke Khurasan, Irak, dan Hijaz. Dalam Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi bercerita tentang perjalanan Imam Al-Baihaqi dalam menuntut ilmu. Beliau mengatakan bahwa Imam Al-Baihaqi ketika berusia 15 tahun telah mendengar dari Abu Al-Hasan Muhammad bin Al-Husain Al-Alawi, sahabat dari Abu Hamid bin Asy-Syarqi dan beliau adalah guru yang paling dahulu bagi Imam Al-Baihaqi. Beliau luput dari menyimak secara langsung dari Abu Nu’aim Al-Isfarayini, sahabat Abu ‘Uwanah, dan meriwayatkan darinya secara ijazah mengenai jual beli. Beliau juga mendengar dari Imam Al-Hakim Abu Abdillah Al-Hafizh lalu memperbanyak riwayat darinya dan lulus darinya.2

Guru Beliau

Beliau berguru kepada ulama-ulama terkenal dari berbagai negara. Beliau harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan untuk bisa menghadiri majelis ilmu tersebut. Di antara guru-gurunya adalah sebagai berikut:
  1. Imam Abul Hassan Muhammad bin Al-Husain Al-Alawi
  2. Abu Abdillah Al-Hakim, pengarang kitab Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain
  3. Abu Tahir Az-Ziyadi
  4. Abu Abdur-Rahman Al-Sulami
  5. Abu Bakr bin Furik
  6. Abu Ali Al-Ruthabari
  7. Hilal bin Muhammad Al-Hafar
  8. Ibnu Busran
  9. Al-Hasan bin Ahmad bin Farras
  10. Ibnu Ya’qub Al-Ilyadi, dll.

Murid-Murid Beliau

Dalam kitab Siyar A’lamin Nubala (18/169), Imam Adz-Dzahabi mengatakan bahwa di antara perawi yang meriwayatkan dari beliau adalah:
  1. Syaikhul Islam Abu Ismail Al-Anshari dengan ijazah
  2. Putranya sendiri: Ismail bin Ahmad bin Al-Husain
  3. Cucu beliau: Abu Al-Hasan bin Ubaidillah bin Muhammad bin Ahmad
  4. Abu Zakariya Yahya bin Mandah Al-Hafidz
  5. Abu Ma’ali Muhammad bin Ismail Al-Farisi
  6. Abdul Jabbar bin Abdul Wahhab Ad-Dahhan
  7. Abdul Jabbar bin Muhammad Al-Khuwairi
  8. Abdul Hamid bin Muhammad Al-Khuwairi
  9. Abu Bakar Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Al-Bahiri, dll.

Pujian Ulama Kepada Beliau

Imam Al-Haramain mengatakan, “Tidak ada satu pengikut Asy-Syafi’i pun melainkan Asy-Syafi’i memiliki jasa kepadanya, kecuali Al-Baihaqi, karena dia berjasa kepada Asy-Syafi’i berkat karya-karyanya yang berisikan pembelaan terhadap mazhabnya dan pendapat-pendapatnya.”3
At-Taj As-Subki mengatakan, “Imam Al-Baihaqi adalah salah satu imam kaum muslimin dan penyeru kepada tali Allah yang kukuh. Beliau adalah penghafal besar, ahli ushul yang tiada bandingnya, zuhud, wara’, taat kepada Allah, membela mazhab, baik ushul maupun furu’-nya, salah satu bukit ilmu.”4
Abdul-Ghaffar Al-Farsi Al-Naisaburi dalam bukunya “Dzail Tarikh Naisaburi” memuji imam Al-Baihaqi setinggi langit dengan mengatakan, “Abu Bakr Al-Baihaqi Al-Faqih Al-Hafizh Al-Ushuli Ad-Din Al-Wari’, orang nomor satu pada zamannya dalam hal hafalan, orang yang tiada bandingannya di antara para sejawatnya dalam hal kesempurnaan dan ketelitian, salah satu pemuka murid Al-Hakim, dan dia mengunggulinya dengan berbagai macam ilmu. Beliau menulis hadis, menghafalkannya semenjak kecil, mendalaminya, serta menguasainya. Beliau mengambil ilmu ushul dan melakukan perjalanan menuntu ilmu ke Irak, daerah berbukit dan Hijaz, kemudian menulis karya ilmiah. Karyanya hampir mencapai seribu juz, yang belum pernah didahului oleh seorang pun sebelumnya. Beliau menghimpun ilmu hadis dan fikih, menjelaskan tentang ‘illat hadis dan meninjau tentang perbedaan-perbedaan hadis-hadis. Para ulama meminta beliau untuk berpindah dari daerah An-Nahiyah ke Naisabur untuk mendengar kitab-kitabnya. Beliau pun datang padatahun 314 H, lalu mereka bermajelis untuk mendengarkan kitab Al-Ma’rifah dan para ulama menghadirinya. Dia mengikuti jalan ulama, merasa puasdengan yang sedikit.”5
Imam Adz-Dzahabi pun memuji beliau dengan mengatakan, “Seandainya Al-Baihaqi mau membuat madzhab untuk dirinya di mana dia berijtihad, niscaya dia mampu melakukannya karena keluasan ilmu dan pengetahuannya tentang perselisihan ulama. Karena itu, kalian melihatnya membela permasalahan-permasalahan yang didukung oleh hadis sahih.”6

Akhlak Beliau

Ibnu ‘Asakir berkata, Syekh Abu Al-Hasan Al-Farisi berkata, “Al-Baihaqi berjalan di jalan para ulama,qana’ah terhadap yang sedikit, dihiasi dengan zuhud dan wara’,serta tetap seperti demikian sampai meninggal.”7
Ibnu Katsir berbicara tentang akhlak beliau, “Al-Baihaqi adalah orang yang zuhud dan menerima sesuatu yang sederhana, banyak beribadah dan wara’.”8

Karya Beliau

Sejumlah kitab penting telah ditulisnya dan mempunyai nilai tinggi di sisi para ulama-ulama setelahnya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa karyanya mencapai seribu jilid9. Kitab-kitab karangan beliau pun mempunyai keistimewaan dibandingkan yang lainnya, karena diurutkan dengan urutan yang begitu teliti dan cermat dan tidak ada yang seperti beliau. Karena itu tidak ada yang seperti beliau sebelumnya (10). Di antara karya beliau:
  1. Kitab As-Sunan Al-Kubra dalam 10 jilid
  2. Kitab Syu’ab Al-Iman dalam 2 jilid
  3. Kitab Dala’il An-Nubuwwah dalam 4 jilid
  4. Kitab Al-Asma wa Ash-Shifat dalam 2 jilid
  5. Kitab Ahkam Al-Qur’an dalam 2 jilid
  6. Kitab Takhrij Ahadits Al-Umm
  7. Kitab Al-Ma’rifat fi As-Sunan wa Al-Atsar dalam 4 jilid
  8. Kitab Al-Mu’taqad dalam 1 jilid
  9. Kitab Al-Ba’tswa An-Nusyur dalam 1 jilid
  10. Kitab At-Targhib wa At-Tarhib dalam 1 jilid
  11. Kitab Nushus Asy-Syafi’i dalam 2 jilid
  12. Kitab As-Sunan Ash-Shaghir dalam 1 jilid besar
  13. Kitab Al-Madkhal ila As-Sunan dalam 1 jilid
  14. Kitab Fadhail Al-Auqat dalam 2 jilid
  15. Kitab Manaqib Asy-Syafi’i dalam 1 jilid dan masih banyak lagi yang lainnya.

Meninggalnya Beliau

Imam al-Baihaqi meninggal pada hari Sabtu di Naisabur, Iran, tanggal 10 Jumadil Ula 458 H (9 April 1066 M). Dia lantas dibawa ke tanah kelahirannya yaitu Baihaq dan dimakamkan di sana. Beliau hidup selama 74 tahun.
**
Daftar Pustaka:
  1. Al-Baihaqi wa Mauqifuhu min Al-Ilahiyyat. DR. Ahmad Al-Ghamidi.
  2. Al-Madkhal ila As-Sunan Al-Kubra. Imam Al-Baihaqi. Adhwa As-Salaf.
  3. Siyar A’lam An-Nubala. Imam Adz-Dzahabi. Dar al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
  4. Tadzkirah Al-Huffadz. Imam adz-Dzahabi. Dar al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
  5. Thabaqat Asy-Syafi’iyyah. Taajuddin as-Subki. DarIhyaKutub Al-‘Arabiyyah.
  6. Min A’lami As-Salaf. Syekh Ahmad Farid. Dar Al-‘Aqidah.
Catatan Kaki
1 Al-Madkhal ila As-Sunan Al-Kubra hal. 18 oleh Imam Al-Baihaqi.
2 Siyar A’lam An-Nubala (18/164) oleh Imam Adz-Dzahabi
3 Thabaqat Asy-Syafi’iyyah (4/10) oleh Tajuddin As-Subki
4 Thabaqat Asy-Syafi’iyyah (4/8) oleh Tajuddin As-Subki
5 Tadzkirah Al-Huffadz (3/1133 oleh Imam Adz-Dzahabi
6 Siyar A’lam An-Nubala (18/169) oleh Imam Adz-Dzahabi
7 Tabyinu KadziAl-Muftar hal. 266. Lihat Al-Madkhal ila As-Sunan Al-Kubra hal. 20
8 Al-Bidayahwa An-Nihayah (912/94) oleh Imam IbnuKatsir. Lihat Al-Madkhalila As-Sunan Al-Kubrahal.20
9 Thabaqat Al-Huffadz, hal. 434 oleh Imam As-Suyuthi
10 Al-Bidayah wa An-Nihayah (12/94) oleh Ibnu Katsir. Lihat juga Mukhtashar Thabaqat Al-Muhadditsin hal. 200 oleh Ibnu ‘Abdil Hadi

Monday, 2 December 2013

Kisah Abdullah Bin Abbas


“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum karena kitab ini (yakni Al-Quran) dan merendahkan kaum lainnya dengannya.” [H.R. Muslim dari shahabat Umar bin Al-Khaththab raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him).

Inilah sepenggal hadits yang menunjukkan dahsyatnya ilmu Al-Quran. Ilmu ini akan mengangkat derajat suatu kaum atau merendahkannya tergantung dengan kualitas keilmuan dan pengamalan Al-Quran.
Dalam sejarah Islam yang gemilang, tercatatlah nama Abul Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma. Beliau adalah seorang shahabat mulia yang telah mengecap manisnya ilmu syariat semenjak kecil. Kemuliaan demi kemuliaan dia raih setimpal dengan ilmu yang dia peroleh. Tentu kisahnya menarik untuk kita cermati dan kita ambil pelajaran darinya.
Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma
Abdullah bin Abbas adalah anak dari Al-Abbas bin Abdul Muththalib bin Qushay Al-Qurasyi raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him), paman Nabi `ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Ibu beliau bernama Ummul Fadhl Lubabah binti Al-Harits Al-Hilaliyah. Beliau lahir tiga tahun sebelum hijrah Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) ke Madinah dan berumur tiga belas tahun ketika Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) meninggal. Dalam sebagian riwayat disebutkan, beliau berbadan gemuk, putih, dan tinggi. Beliau adalah seorang yang pandai serta fasih berbicara. Banyak dari lawan bicara Ibnu Abbas mengikuti pendapatnya setelah berdialog dengannya. Seorang ulama tabi’in, Masruq bin Al-Ajda’ raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) mengatakan, “Ketika aku melihat Abdullah bin Abbas, aku katakan, ‘Dia adalah orang yang paling tampan.’ Lalu ketika dia berbicara aku katakan, ‘Dia orang yang paling pandai bicara.’ Dan ketika dia berbicara aku katakan, ‘Dia orang yang paling berilmu.’”
Ulama tabi’in lainnya, Abu Wa`il Syaqiq bin Salamah raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) mengatakan, “Ibnu Abbas berkhutbah kepada kami pada musim haji. Beliau membuka dengan Surat Nur. Beliau membacanya dan menafsirkannya. Aku pun mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat atau mendengar ucapan seseorang yang semisal ini. Anda Persia, Romawi, dan Turki mendengarnya, niscaya mereka akan masuk Islam.”
Soal tafsir pun Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma ahlinya. Abdullah bin Mas’ud raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him), seorang ulama shahabat, mengakui kepiawaian Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dengan mengatakan, “Penafsir Al-Quran yang paling baik adalah Ibnu Abbas. Jika dia berumur seperti kita, niscaya tidak ada seorang pun dari kita yang ilmunya mencapai sepersepuluh ilmunya.”
Al-Qasim bin Muhammad mengatakan tentangnya, “Aku tidak melihat di majelis Ibnu Abbas satu kebatilan pun. Aku tidak pernah mendengar fatwa yang lebih cocok dengan sunnah daripada fatwanya. Para muridnya menjuluki beliau Al-Bahr (lautan ilmu) dan Al-Habr (tinta).” Demikianlah, Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dijuluki Habrul Ummah.
Siapa tak kenal Umar bin Al-Khaththab raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him), Sang Khalifah kedua setelah Abu Bakr? Ternyata, shahabat sekelas Umar pun mengakui keilmuan Ibnu Abbas yang waktu itu masih muda. Tercatat oleh Al-Bukhari di dalam kitab Shahih beliau bahwasanya suatu saat Umar memasukkan Ibnu Abbas muda ke dalam majelisnya bersama para tokoh Islam. Pada waktu itu, para tokoh Badr yang telah matang dalam usia sangsi akan kemampuan Ibnu Abbas. Mereka pun bertanya kepada Umar, “Kenapa Anda memasukkan pemuda ini ke tengah majelis kita padahal kami juga punya anak seperti dia?”
Umar pun menjawab, “Kalian telah mengetahui tentangnya (yakni kepandaiannya, red.)”
Suatu saat, Umar memanggil Ibnu Abbas ke tengah majelis mereka untuk memperlihatkan kepandaian Ibnu Abbas. Umar menanyakan kepada mereka, “Apa yang kalian ketahui tentang firman Allah ta’ala (yang artinya), ‘Jika telah datang pertolongan Allah dan penaklukan.’ [Q.S. Al-Nashr:1-3]?”
Sebagian tokoh Badr tersebut pun menjawab, “Allah memerintahkan kita untuk beristighfar setelah Allah menolong dan memudahkan kita untuk menaklukkan kota Mekah.” Sedang sebagian lainnya memilih diam.
Sekarang giliran Ibnu Abbas, “Demikiankah?” kata Umar kepada Ibnu Abbas.
Ibnu Abbas mengatakan, “Tidak.”
“Lantas, apa menurutmu?” tanya Umar.
Ibnu Abbas mengatakan, “Itu adalah wafatnya Rasulullah `, Allah memberitahukannya kepada beliau. ‘Jika datang kepadamu pertolongan dan penaklukan.’ [Q.S. Al-Nashr:1] itu adalah tanda dari dekatnya wafat Nabi ` ‘Maka bertasbihlah dengan pujian kepada Rabbmu dan mintalah ampun. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.’ [Q.S. An-Nashr:3].
Umar pun mengatakan, “Aku tidak mengetahuinya kecuali seperti apa yang engkau katakan.”
Demikianlah ketajaman dan ketelitian Ibnu Abbas dalam memahami wahyu. Dia mengetahui bahwa perintah istighfar tidak biasa digunakan ketika terjadi kemenangan dan penaklukan. Dia mengetahui bahwa perintah istighfar dan taubat biasanya digunakan untuk mengakhiri sesuatu, maka dia pun menafsirkan pertolongan dan penaklukan dalam ayat tersebut sebagai tanda akan diwafatkannya beliau. [I’lamul Muwaqqi’in karya Ibnul Qayyim raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) ].
Tidak hanya tafsir, Ibnu Abbas juga pandai dalam banyak perkara. Murid Ibnu Abbas, Atha` bin Abi Rabah raḥimahullāh (may Allāh have mercy upon him) mengatakan, “Banyak orang mendatangi Ibnu Abbas untuk mempelajari syair dan nasab-nasab. Orang yang lain mendatangi Ibnu Abbas untuk mempelajari sejarah hari-hari peperangan. Dan kelompok lainnya mendatangi Ibnu Abbas untuk mempelajari ilmu agama dan fikih. Tidak ada satu golongan pun dari mereka kecuali mendapatkan apa yang mereka mau.”

Berawal Dari Doa Yang Mustajab
Berbagai keutamaan yang Ibnu Abbas raih ini sejatinya tidak lepas dari doa mustajab yang dipanjatkan oleh Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Saat itu, Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) hendak buang hajat. Ibnu Abbas kecil memahami kebiasaan Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) yang berwudhu setiap kali habis dari buang hajat. Dia pun meletakkan air wudhu di tempat keluarnya Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him). Lantas, ketika Nabi ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) melihat air wudhu yang sudah dipersiapkan, Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) pun bertanya, “Siapa yang meletakkan ini?” Ibnu Abbas menjawab, “Ibnu Abbas.” Maka Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) pun meletakkan telapak tangannya yang mulia di bahu Ibnu Abbas kecil seraya berdoa:

“Ya Allah, berilah dia pemahaman dalam masalah agama dan ajarkanlah kepadanya tafsir.” [H.R. Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya, ini lafazh Imam Ahmad].
Nah, dari doa inilah kemuliaan demi kemuliaan kemudian dia peroleh. Namun, tentu saja kemuliaan ini bukan turun dari langit begitu saja. Allah memberi taufik kepada Ibnu Abbas untuk menuntut dan mencari kemuliaan tersebut dengan sepenuh tenaga yang Allah karuniakan kepadanya, bukan hanya dengan berpangku tangan.
Ibnu Abbas menuturkan pengalamannya dalam menuntut ilmu, “Tatkala Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) telah berpulang ke hadirat Allah, aku mengatakan kepada seorang Anshar, ‘Mari kita bertanya kepada para shahabat Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him), mumpung sekarang mereka masih banyak.’
Orang Anshar itu pun menukas, ‘Aku heran, apakah engkau menyangka bahwa manusia membutuhkan dirimu?’”
Ibnu Abbas tidak menggubris ucapannya. Dia pergi menemui para shahabat dan menanyai mereka. Ibnu Abbas melanjutkan penuturannya, “Suatu hari, aku mengetahui ada hadits dari seseorang. Aku pun mendatangi pintunya. Ternyata orang tersebut sedang tidur siang. Aku pun beralas baju atasku (pada waktu itu, baju atas berupa selendang) menunggunya di depan pintu. Angin meniupkan debu ke wajahku. Lalu, setelah orang tersebut pun keluar dan melihatku, dia berkata, ‘Wahai sepupu Rasulullah, kebutuhan apa gerangan yang membuat Anda datang kepadaku? Kenapa Anda tidak mengutus seseorang untuk kemudian aku yang akan mendatangi Anda?’
Aku pun mengatakan, ‘Tidak. Aku lebih berhak untuk mendatangimu lalu menanyaimu tentang hadits.’
Orang Anshar tadi pun hidup hingga melihat orang-orang mengelilingiku untuk menanyaiku. Dia pun berkata, ‘Sejak dahulu, pemuda ini lebih pandai dariku.’”
Demikianlah Ibnu Abbas yang sangat menghargai ilmu. Dia datang merendahkan diri untuk mendapatkan ilmu, bukan dengan menunggu datangnya ilmu.
Selain itu, Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma sangat menghargai dan menghormati para ulama disebabkan ilmu mereka. Seorang ulama tabi’in Asy-Sya’bi mengisahkan, “Zaid bin Tsabit raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) (seorang ulama shahabat) mengendarai unta. Ibnu Abbas pun menuntun untanya. Zaid mengatakan, ‘Jangan lakukan, wahai sepupu Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him).’ Ibnu Abbas pun menyahut, ‘Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ulama kami.’ Kemudian, Zaid bin Tsabit mencium tangannya dan mengatakan, ‘Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan keluarga Nabi kami.”

Akhir Hayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma
Ibnu Abbas meninggal di Tha`if pada tahun 68 H pada pemerintahan Ibnu Zubair. Waktu itu, umur beliau sekitar 70 tahun. Di antara yang menshalati beliau adalah seorang ulama tabi’in, Muhammad bin Ali bin Abu Thalib yang dikenal dengan Ibnul Hanafiyah (w. 80 H). Beliau mengatakan, “Telah meninggal seorang ulama rabbani bagi umat ini.”
Demikianlah uraian singkat mengenai biografi Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, seorang shahabat yang Allah karuniakan keutamaan ilmu kepadanya. Andai kita menyebutkan seluruh keutamaan beliau, niscaya tidak akan tertampung beberapa lembaran saja. Namun, cukuplah kiranya kisi-kisi dari biografi ulama shahabat yang satu ini untuk melecut kita mempelajari ilmu syar’i, ilmu yang kini mulai ditinggalkan oleh kaum muslimin. Sehingga, kita mendapatkan bagian yang banyak dari warisan kenabian. Allahu a’lam bish shawab.

Sumber :        Al-Isti’ab fi Ma’rifatil Ashhab, Imam Abu Umar Ibnu Abdil Barr
                        Al-Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 

Pelajaran dari Kisah Abu Tholib Menjelang Wafat





Dalam shiroh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijelaskan bahwa paman Nabi -Abu Tholib- biasa melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadits.
Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata, “Ketika menjelang Abu Tholib (paman Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-) meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Tholib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada pamannya ketika itu,
أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
“Wahai pamanku, katakanlah ‘laa ilaha illalah’ yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”
Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Umayyah berkata,
يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
“Wahai Abu Tholib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthollib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Tholib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Muttholib.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan :
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah”
Kemudian turunlah ayat,
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam” (QS. At Taubah: 113)
Allah Ta’ala pun menurunkan ayat,
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufiq) kepada orang-orang yang engkau cintai” (QS. Al Qosshosh: 56) (HR. Bukhari no. 3884)
Beberapa pelajaran dari hadits di atas:
1- Boleh menjenguk orang sakit yang non-muslim asal dengan tujuan untuk mendakwahinya masuk Islam.
2- Bahaya memiliki teman yang jelek yang terus merayu pada kekafiran dan maksiat.
3- Makna kalimat “laa ilaha illallah” adalah meninggalkan peribadahan pada berhala, wali dan orang sholeh. Orang-orang musyrik di masa Rasul sudah mengetahui hal ini.
4- Seseorang yang mengucapkan kalimaat “laa ilaha illallah” dengan penuh keyakinan, maka ia dianggap masuk Islam.
5- Terlarang meminta ampunan pada Allah untuk orang musyrik dan dilarang loyal pada mereka, juga dilarang mencintai mereka (atas dasar agama).
6- Amalan itu dilihat dari akhirnya.
7- Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak dapat memberi manfaat pada pamannya sendiri, lebih-lebih pada orang lain. Ini menunjukkan terlarangnya ketergantungan hati pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meraih manfaat dan menolak mudhorot.
8- Hadits ini menunjukkan bahwa Abu Tholib mati dalam keadaan kafir.
9- Bahaya hanya mengekor (taklid) pada nenek moyang atau hanya mengikuti tradisi mereka, dan hal itu dijadikan alasan ketika didebat, “Ini kan tradisi nenek moyang kita.”
10- Hidayah agar seseorang bisa melakukan ketaatan adalah kuasa Allah. Sedangkan kita sebagai manusia hanya bisa memberikan penjelasan pada kebenaran.
Semoga pelajaran ini bermanfaat bagi pengunjung  Hanya Allah yang memberi taufik.
Wallahu a’lam bis shawwab.
Referensi:
Al Mulakhosh fii Syarh Kitab Tauhid karya guru kami, Syaikh Sholeh Al Fauzan, terbitan Darul ‘Ashimah, cetakan kedua, tahun 1433 H, hal. 155-157.