Kesaksian bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujurat [49]: 15)

Menegakkan shalat

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), [Q.S Ar-Ra'ad 13 :22]

Menunaikan zakat

“Ambillah dari harta mereka sedekah / zakat, untuk membersikah mereka serta menghapus kesalahan mereka” (QS At Taubah [9]: 103).

Puasa Ramadhan

“Hai orang2 yang beriman, diwajibkan bagimu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan pada orang2 sebelum kamu. Mudah2an kamu bertakwa” (Al -Baqarah:183)

Haji bagi yang mampu

“Haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu melakukan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa yang mengingkari (kewajiban haji), sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan apapun) dari semesta alam”. (QS. Ali Imran: 97)

Friday, 4 April 2014

Pernikahan Rasulullah Dengan Khadijah Radhiallahu’anha






Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kembali ke Mekkah dari perjalanan dagangnya ke Syam, Khadijah Radhiallahu’anha melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sangat amanah dalam mengelola dagangannya dan ia juga melihat keberkahan besar dalam daganganya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Selain itu, budak lelaki Khadijah yang bernama Maisarah, juga mengabarkan kepadanya mengenai pembawaan Rasulullah yang lembut, sifat-sifat beliau yang mulia, ketajaman berpikir, perkataan yang jujur, metode beliau yang amanah.
Maka Khadijah pun seakan menemukan sosok pria yang didambakannya selama ini. Padahal banyak sekali para tokoh dan pembesar kaum yang berusaha untuk menikahinya, namun Khadijah menolak semuanya. Lalu Khadijah pun mencurahkan perasaannya tersebut kepada sahabatnya yang bernama Nafisah binti Muniyyah, dan Nafisah pun segera pergi kepada RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam membeberkan niatan Khadijah tersebut dan menganjurkan Rasulullah untuk menikahinya. Beliau pun menyetujuinya dan membicarakan hal ini dengan paman-paman beliau. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun mendatangi paman Khadijah dan melamar Khadijah. Tidak lama setelah itu, pernikahan pun dilangsungkan. Akad pernikahan ini dihadiri oleh para keluarga dari kalangan Bani Hasyim dan para pembesar kabilah Mudhar. Dalam pernikahan ini, Rasulullah memberikan mahar berupa 20 ekor unta muda. Pernikahan ini terjadi setelah dua bulan Rasulullah kembali dari Syam.

Usia Khadijah Ketika Menikah

Ada beberapa pendapat dikalangan para ahli sejarah mengenai usia Khadijah ketika beliau menikah dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Yang masyhur diantaranya yaitu pendapat yang mengatakan beliau menikah pada usia 40 tahun dan pendapat yang mengatakan beliau menikah pada usia 28 tahun.
Pendapat yang menyatakan 40 tahun, berdasarkan riwayat yang dikeluarkan Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqah:
أخبرنا محمد بن عمر، أخبرنا المنذر بن عبد الله الحزامي، عن موسى بن عقبة عن أبي حبيبة، مولى الزبير قال: سمعت حكيم بن حزام يقول: تزوج رسول الله صلى الله عليه وسلم خديجة وهي ابنة أربعين سنة، ورسول الله صلى الله عليه وسلم ابن خمس وعشرين سنة
“Muhammad bin Umar (Al Waqidi) menuturkan kepadaku, Al Mundzir bin Abdillah Al Hizami menuturkan kepadaku, dari Musa bin ‘Uqbah, dari Abu Habibah maula Az Zubair, ia berkata: aku mendengar Hakim bin Hizam mengatakan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menikah dengan Khadijah ketika Khadijah berusia 40 tahun sedangkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berusia 25 tahun”.
riwayat ini lemah karena Muhammad bin Umar (Al Waqidi) statusnya matruk.
Pendapat yang menyatakan 28 tahun, berdasarkan riwayat yang dikeluarkan Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqah:
أخبرنا هشام بن محمد بن السائب، عن أبيه، عن أبي صالح عن ابن عباس قال: كانت خديجة يوم تزوجها رسول الله صلى الله عليه وسلم ابنة ثمان وعشرين سنة
“Hisyam bin Muhammad bin As Sa-ib menuturkan kepadaku, dari ayahnyam dari Abu Shilah dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: Khadijah berusia 28 tahun ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallammenikahinya”.
riwayat ini juga lemah karena Hisyam bin Muhammad bin As Sa-ib statusnya matruk.
dan para ulama mengatakan bahwa tidak ada riwayat yang shahih yang mengabarkan dengan jelas tentang usia Khadijah ketika beliau menikah dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam [1]. Namun Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri merajihkan pendapat yang menyatakan 40 tahun,wallahu’alam.

Keutamaan Khadijah Radhiallahu’anha

Diantara keutamaan beliau adalah semua putra-putri Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berasal dari rahim Khadijah, kecuali Ibrahim. Mereka adalah:
  1. Al Qasim (nama kun-yah Rasulullah, yaitu Abul Qasim, menggunakan nama beliau)
  2. Zainab
  3. Ruqayyah
  4. Ummu Kultsum
  5. Fathimah
  6. Abdullah (laqb-nya / julukan beliau adalah ath thayyib dan ath thahir)
semua putra Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam wafat ketika masih anak-anak. Sedangkan semua putri beliau semuanya hidup di masa penyebaran Islam, semuanya memeluk Islam, dan semuanya ikut berhijrah. Namun semuanya wafat ketika Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam masih hidup, kecuali Fathimah, yang wafat 6 bulan setelah beliau wafat.
Keutamaan Khadijah yang lain adalah bahwa beliau merupakan wanita pertama yang dinikahi Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Rasulullah tidak menikahi wanita lain sampai Khadijah wafat.
Khadijah radhiallahu’anha juga merupakan wanita paling mulia di zamannya secara mutlak. Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda:
خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ
Wanita terbaik ialah Maryam putri Imran dan Khadijah” (HR Al Bukhari 3432, Muslim 2430).
Khadijah radhiallahu’anha merupakan wanita yang paling dicintai oleh Rasulullah setelah ‘Aisyah radhiallahu’anha. Bahkan besarnya cinta Rasulullah kepada Khadijah sering kali membuat Aisyah cemburu, beliau berkata:
ما غرتُ على نساءِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ إلا على خديجةَ . وإني لم أُدركها . قالت : وكان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ إذا ذبح الشاةَ فيقول ” أرسلوا بها إلى أصدقاءِ خديجةَ ” قالت ، فأغضبتُه يومًا فقلتُ : خديجةُ ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ” إني قد رُزِقْتُ حُبَّها “
“Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi melebihi kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku belum pernah berjumpa dengannya. Biasanya ketika beliau menyembelih kambing, beliau memerintakan: “bagikanlah daging kambing ini kepada teman-teman Khadijah“. Suatu hari, kecemburuanku membuat beliau marah. Kataku, “Khadijah?” beliau lalu mengatakan, “Aku dikaruniai rasa cintah kepadanya” (HR Al Bukhari 3818, Muslim 2435).

Khutbah Abu Thalib Ketika Melamar Khadijah Untuk Rasulullah

Abu Thalib mengatakan:
الحمد لله الذي جعلنا من زرع إبراهيم، وذرية إسماعيل، وضئضيء معدّ، وعنصر مضر، وجعلنا حضنة بيته، وسوّاس حرمه، وجعله لنا بيتا محجوجا، وحرما آمنا، وجعلنا حكام الناس. ثم إن ابن أخي هذا محمد بن عبد الله لا يوزن به رجل من قريش إلا رجح عليه برا، وفضلا، وكرما، وعقلا، ومجدا، ونبلا، وإن كان في المال قلّ، فإن المال ظل زائل، وأمر حائل، وعارية مسترجعة، وهو والله بعد هذا له نبأ عظيم، وخطر جليل! وله في خديجة بنت خويلد رغبة، ولها فيه مثل ذلك، وما أحببتم من الصداق فعليّ
Segala puji bagi Allah yang menjadikan kita sebagai keturunan Nabi Ismail, sebagai anak cucu Ma’ad, sebagai keturunan Mudhar, sebgai penjaga Baitullah, pengawal tanah Haram-Nya, yang tanah ini menjadi tempat ibadah haji, yang suci dan aman, dan menjadikan kita hakim bagi manusia. Ini anak saudaraku, Muhammad bin Abdillah, jika ditimbang dengan laki-laki manapun juga, maka ia lebih berat dari mereka semua kebaikannya, keutamaannya, kemuliaannya, akalnya, kedermawanannya, dan kebijaksaannya.Meskipun hartanya sedikit, namun harta itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang cepat perginya serta merupakan pinjaman yang akan dikembalikan. Dia ini, demi Allah, telah ada kabar baik tentangnya dan ia memiliki kedudukan yang mulia di tengah masyarakat. Ia menyukai Khadijah binti Khuwailid, begitu juga sebaliknya. Dan mahar apa yang kalian sukai, saya yang akan menanggungnya.[2]
Wallahu a’lam bis shawwab.
Referensi:
  • Rahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyurahman Al Mubarakfuri, hal 13-15, Asy Syamilah
  • Shahih Sirah Nabawiyah, Syaikh Al Albani, hal 38
  • Islamweb.Net

Catatan Kaki
[1] http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=209137
[2] Rahiqul Makhtum (hal. 15)

Wednesday, 2 April 2014

Penciptaan Jin dan Cerita Tentang Setan



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Para malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, sedang Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disifatkan kepada kalian.” [HR.Muslim dalam Shahihnya 5314 dan Imam Ahmad 204438]
Banyak ulama tafsir berpendapat bahwa jin diciptakan sebelum Adam. Penghuni bumi sebelum manusia adalah al-Hinn dun alBinn[1], lalu Allah menjadikan bangsa jin menguasai mereka. Bangsa jin memerangi mereka serta mendiami bumi setelahnya disebabkan karena kejahatan yang mereka perbuat.
Adh-Dhahhak menceritakan dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika bangsa jin berbuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah, Allah mengutus Iblis kepada mereka yang disertai oleh tentara-tentara dari malaikat. Para malaikat memerangi dan mengusir mereka dari bumi hingga sampai ke pulau-pulau yang dikelilingi lautan.
Al-Hasan al-Bashry berkata, “Iblis bukan sama sekali dari bangsa malaikat. Iblis adalah cikal bakal jin, seperti halnya Adam cikal bakal manusia.”
Para jin diciptakan dari api. Mereka tidak ubahnya manusia. Mereka makan, minum, dan berketurunan. Di antara mereka ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Pendapat yang benar bahwa jin yang mukmin akan masuk surga.
Sebelum Iblis bermaksiat, ia bemama ‘Azazil dan kunyahnya adalah Abu Kurdus. Diriwayatkan dari Jabir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian menyebarkan bala tentaranya dan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar fitnahnya. ” [HR.Muslim dalam Shahihnya 5032 dan Ahmad 13858]
Foot Note:
[1] Mereka adalah golongan jin yang paling lemah dan rendahan
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah

Penciptaan Malaikat dan Sifat-Sifatnya


Salah satu landasan agama Islam yaitu beriman kepada Malaikat. Allah سبحانه وتعالى berfirman:
آمَنَ الرَّ‌سُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّ‌بِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّـهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُ‌سُلِهِ لَا نُفَرِّ‌قُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّ‌سُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَ‌انَكَ رَ‌بَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ‌
Rasul telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian juga orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya….” [QS. Al-Baqarah: 285]
Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril `alaihis salam tentang iman, beliau menjawab: “(Iman yaitu) Engkau beriman dengan Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman dengan takdir yang baik dan buruk.” [Muttafaq 'alaih]
Ada banyak ayat yang menyebutkan tentang keberadaan Malaikat. Allah سبحانه وتعالى menyifati mereka sebagai makhluk yang kuat dalam beribadah dan penciptaan, elok dipandang, besar fisiknya, serta memiliki kemampuan menjelma dalam beragam wujud.
Adakalanya mereka menjelma menjadi seorang pemuda tampan, yang turun ke bumi untuk menguji dan mencoba hingga hujjah tegak atas kaum Luth, lalu Allah mengadzab mereka dengan adzab dari Yang Mahaperkasa, Mahakuasa. Begitu juga halnya Jibril yang pernah datang kepada Nabi صلي الله عليه وسلم dalam sifat-sifat yang beragam; terkadang dalam rupa Dihyah bin Khalifah al-Kalby, terkadang dalam rupa seorang Arab badui (dusun), serta terkadang pula menampakkan rupa aslinya.
Malaikat adalah utusan-utusan Allah تعالى untuk berbagai fungsi. Al-Qur’an menyatakan:
الْحَمْدُ لِلَّـهِ فَاطِرِ‌ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْ‌ضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُ‌سُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَّثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُ‌بَاعَ ۚ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّـهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing ada yang dua,tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” [QS. Fathir: 1]
Allah تعالى menciptakan malaikat dari cahaya, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah رضي الله عنه, Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda,
“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang berkobar, sedangkan Adam (manusia) diciptakan sebagaimana yang telah dijelaskan kepada kalian (tanah).” [HR. Muslim]
Malaikat memiliki 600 (enam ratus) sayap, jarak antara kedua sayapnya sejauh jarak antara Timur dan Barat. Mereka mampu mengangkat kota-kota kaum Luth yang berjumlah tujuh kota berikut dengan penghuni-penghuni yang ada di dalamnya, sedang jumlah mereka waktu itu mendekati 400.000 (empat ratus ribu) malaikat. Semua kota tersebut diangkat di atas ujung-ujung sayapnya hingga mencapai batas langit, sampai-sampai para malaikat mendengar lolongan anjing dan kotekan ayam mereka, kemudian mereka membalikkannya hingga bagian atasnya menjadi bagian bawah.
Dan di antara sidat Malaikat Israfil ‘alaihimus salam bahwa dia merupakan salah satu pengusung al-’Arsy, yang akan meniup sangkakala atas perintah Rabbnya dengan tiga tiupan:
  1. Tiupan mengejutkan
  2. Tiupan mematikan
  3. Tiupan membangkitkan kembali
Dari Abu Sa’id, ia berkata, “Rasulullah صلي الله عليه وسلم pernah menyebutkab shahib (Malaikat peniup) sangkakala, ‘Di sebelah kanannya ada Jibril dan di sebelah kirinya ada Mikail ‘alaihimas salam.’” [HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya 10647]
Malaikat Jibril turun dengan membawa petunjuk kepada para rasul Allah untuk disampaikan kepada umatnya. Malaikat Mikail diberi tugas untuk mengurusi air hujan serta tumbuhan, yang dari keduanya beragam rejeki tercipta di muka bumi.
Mengenai Malakul Maut, maka namanya tidak disebutkan secara jelas, baik dalam al-Qur’an maupun di dalam hadits-hadits yang shahih. Adapun penamaannya dengan Malaikat Izrail, hal itu tercantum di beberapa atsar, wallahu a’lam.
Di antara malaikat yang namanya disebut dalam hadits yaitu Malaikat Munkar dan Nakir ‘alaihimas salam. Di dalam hadits-hadits keduanya dikenal sebagai malaikat penanya di dalam kubur.
yang bertindak sebagai penjaga surga adalah Malaikat Ridhwan. Penamaan ini disebutkan secara tegas di dalam beberapa hadits.
Di antara mereka ada yang diserahkan tanggung jawab menjaga neraka dan penjaganya adalah Malaikat Malik. Ada juga malaikat diserahi tugas mencatat amal-amal hamba sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى :
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ
“(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” [QS. Qaf: 17]
Para malaikat secara umum disifati dengan sifat-sifat yang terpuji. Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang mereka:
يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan.” [QS. An-Nahl: 50]
Para ulama berbeda pendapat tentang pengutamaan malaikat atas manusia. Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, “Tidak ada satu makhluk pun yang lebih mulia di sisi Allah dibanding orang yang mulia dari Bani Adam.” Ia berdalil dengan firman Allah سبحانه وتعالى :
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَـٰئِكَ هُمْ خَيْرُ‌ الْبَرِ‌يَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” [QS. al-Bayyinah: 7]
Pendapat ini disepakati oleh Umayyah bin ‘Amr bin Sa’id. ‘Irak bin Malik berkata, “Tidak ada satu pun makhluk yang lebih mulia di sisi Allah dibanding para malaikat-Nya.”
Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata kepada Muhammad bin Ka’ab al-Qurzhy, “Apa pendapatmu tentang ini, wahai abu Hamzah?” Abu Hamzah menjawab, “Allah telah memuliakan Adam, lalu ia menciptakannya dengan tangan-Nya, serta keturunannya dijadikan sebagai nabi dan rasul.”
‘Umar ‘Abdul ‘Aziz pun sepakat dengan pendapat tersebut. Namun orang yang berpendapat seperti ini berdalil dengan yang bukan dalilnya, dan selemah-lemah dilalah (penunjukan) adalah apa yang disebutkan secara jelas mengenai hal itu pada firman Allah تعالى : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dna mengerjakan amal shalih.” Karena kandungan ayat ini tidak hanya terbatas pada manusia, karena Allah telah menyifati para malaikat dengan iman pada firman-Nya:
وَيُؤْمِنُونَ بِهِ
“Mereka beriman kepada-Nya…” [QS. Ghafir: 7]
Begitu juga halnya dengan jin, Allah تعالى berfirman:
وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَىٰ آمَنَّا بِهِ
“Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (al-Qur’an), kami beriman kepadanya…” [QS. Al-Jin: 13]
Ibnu Katsir berkata, “Sebaik-baik hujjah yang dapat dijadikan dalil dalam permasalahan ini (bahwa manusia lebih mulia dibanding malaikat) adalah apa yang diriwayatkan oleh ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimy dari ‘Abdullah bin ‘Amr, secara marfu’ dan itulah pendapat yang paling benar. Ia berkata, ‘Setelah Allah menciptakan surga, para malaikat berkata, ‘Wahai Tuhan kami, peruntukkan ini untuk kami, sehingga kami dapat makan dan minum darinya, karena Engkau telah menciptakan dunia untuk anak-anak Adam.’
Allah  تعالى berfirman:
“Aku tidak akan menjadikan (posisi) keturunan yang shahih dari makhluk yang Aku ciptakan dengan tangan-Ku sehingga dengan (makhluk yang Aku ciptakan) yang Aku hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah, maka jadilah ia.” [HR. An-Nasa'i]
Berikut ini adalah beberapa sifat malaikat:
  • Para malaikat diciptakan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan tabiat selalu taat kepada Allah تعالى, dan tidak ada pilihan bagi malaikat apakah dia mau taat atau tidak.
  • Para malaikat tidak memiliki syahwat. Oleh karena itu, mereka tidak makan, tidak minum dan tidak menikah.
  • Para malaikat tidak pernah bermaksiat kepada Allah سبحانه وتعالى, sedikit pun walaupun hanya sekejap mata.
  • Allah سبحانه وتعالى, menciptakan malaikat untuk melayani bani Adam dan merekapun (para malaikat) senantiasa melakukan tugas tersebut.
  • Para malaikat senantiasa menolong di atas kebaikan kepada para nabi dan rasul serta para pengikutnya. Oleh karena itu, malaikat merupakan sumber kebaikan terhadap manusia dengan cara memberikan ilham kepada manusia. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah sebagaimana yang disebutkan di dalam “Majmu Fatawa” 4/34 ): “Maka sumber ilmu yang benar dan kehendak yang baik itu berasal dari ilham para malaikat dan sumber keyakinan yang batil serta kehendak yang buruk dari bisikan syaitan.”
Allah تعالى telah manjadikan malaikat sebagai makhluk yang ma`shum, dimana  mereka tidak akan pernah bermaksiat kepada-Nya. Allah تعالى berfirman:
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّ‌حْمَـٰنُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ
“Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak’, Maha Suci Allah…” [QS. Al-Anbiyaa`: 26]
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah

Rib’i bin ‘Amir Bertemu dengan Raja Persia



SEBELUM terjadi peperangan Qadisiyah antara tentara Muslimin pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu dengan tentara Persia pimpinan Rustum, Sa’ad terlebih dulu mengirim utusan kepada Rustum beberapa kali. Di antara utusan tersebut adalah Rib’i bin ‘Amir Ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu.
Maka Rib’i pun segera masuk menemui Rustum sementara mereka telah menghiasi pertemuan itu dengan bantal-bantal yang dirajut dengan benang emas, serta permadani-permadani yang terbuat dari sutera. Mereka mempertontonkan kepadanya berbagai macam perhiasan berupa yaqut, permata-permata yang mahal, dan perhiasan lain yang menyilaukan mata, sementara Rustum memakai mahkota dan sedang duduk di atas ranjang yang terbut dari emas.
Berbeda keadaannya dengan Rib’i. Ia masuk dengan hanya mengenakan baju yang sangat sederhana, dengan pedang, perisai, dan kuda yang pendek. Rib’i masih tetap di atas kudanya hingga menginjak ujung permadani. Kemudian Ia turun serta mengikatkan kuda tersebut di sebagian bantal-bantal yang terhampar. Setelah itu Ia langsung masuk dengan senjata, baju besi, dan penutup kepalanya.
Mereka berkata, “Letakkan senjatamu!”
Ia menjawab, “Aku tidak pernah berniat mendatangi kalian tetapi kalianlah yang mengundangku datang kemari. Jika kalian memerlukanku maka biarkan aku masuk dalam keadaan seperti ini. Jika tidak kalian izinkan, maka aku akan segera kembali.”
Rustum berkata, “Biarkan dia masuk.”
Maka Rib’i datang sambil bertongkat dengan tombaknya dalam keadaan posisi ujung tombak ke bawah sehingga bantal-bantal yang dilewatinya penuh dengan lubang-lubang bekas tombaknya.
Mereka bertanya, “Apa yang membuat kalian datang ke sini?”
Ia menjawab:
الله ابتعثنا لنخرج من شاء من عبادة العباد إلى عبادة الله، ومن ضيق الدنيا إلى سعتها، ومن جور الاديان إلى عدل الاسلام، فأرسلنا بدينه إلى خلقه لندعوهم إليه، فمن قبل ذلك قبلنا منه ورجعنا عنه، ومن أبى قاتلناه أبدا حتى نفضي إلى موعود الله.
“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kezhaliman agama-agama kepada keadilan Al-Islam. Maka Dia mengutus kami dengan agama-Nya untuk kami seru mereka kepadanya. Maka barangsiapa yang menerima hal tersebut, kami akan menerimanya dan pulang meninggalkannya. Tetapi barangsiapa yang enggan, kami akan memeranginya selama-lamanya hingga kami berhasil memperoleh apa yang dijanjikan Allah”
Mereka bertanya, “Apa yang dijanjikan Allah (kepada kalian)?”
Ia menjawab, “Surga bagi siapa saja yang mati dalam memerangi orang-orang yang enggan dan kemenangan bagi yang hidup.
Rustum pun berkata, “Sungguh aku telah mendengar perkataan-perkataan kalian. Tetapi maukah kalian memberi tangguh perkara ini sehingga kami mempetimbangkannya dan kalian pun mempertimbangkannya?”
Ia menjawab, “Ya, berapa lama waktu yang kalian sukai? sehari atau dua hari?”
Rustum menjawab, “Tidak, tetapi hingga kami menulis surat kepada para petinggi kami dan para pemimpin kaum kami.”
Maka ia pun menjawab, “Rasul kami tidak pernah mengajarkan kepada kami untuk menangguhkan peperangan semenjak bertemu musuh lebih dari tiga (hari). Maka pertimbangkanlah perkaramu dan mereka, dan pilihlah satu dari tiga pilihan apabila masa penangguhan telah berakhir.”
Rustum bertanya, “Apakah kamu pemimpin mereka?”
Ia menjawab, “Tidak, tetapi kaum muslimin ibarat jasad yang satu. Yang paling rendah dari mereka dapat memberikan jaminan keamanan terhadap yang paling tinggi.”
Maka akhirnya Rustum mengumpulkan para petinggi kaumnya kemudian berkata,”Pernahkah kalian melihat (walau sekali) yang lebih mulia dan lebih benar daripada perkataan lelaki ini?”
Mereka menjawab, “Kami minta perlindungan Allah dari (supaya engkau tidak) terpengaruh kepada sesuatu dari (ajakan) ini dan dari menyeru agamamu kepada (agama) anjing ini. Tidakkah engkau melihat kepada pakaiannya?”
Rustum menjawab, “Celaka kalian! Janganlah kalian melihat kepada pakaian. Akan tetapi lihatlah kepada pendapat, perkataan, dan jalan hidupnya! Sesungguhnya orang ‘Arab menganggap ringan masalah pakaian dan makanan. Tetapi mereka menjaga harga diri mereka.”

Wallahu a’lam bis shawwab.
Maraji’:
[1] Al-Bidayah Wa An-Nihayah karya Ibnu Katsir versi Asy-Syamilah 7/46
[2] Al-Bidayah Wan Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin 256-258 (terbitan Darul Haq).
[3] Tarikh At-Thabari versi Asy-Syamilah 3/33.

Gravitasi dan Rasi



Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, bahwa Hiraklius mengirim surat kepada Mu'awiyah dan berkata,"Jika ditengah-tengah mereka masih ada sedikit bukti kenabian, maka mereka tentu memberitahuku tentang apa saja yang aku tanyakan kepada mereka." Ia lalu mengirim surat kepadanyalagi dan bertanya tentang rasi bintang, gaya gravitasi, dan lembah yang tidak pernah terkena cahaya matahari, melainkan hanya satu jam.

Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma berkata, "Ketika surat itu itu tiba ditangan Mu'awiyah, ia berkata, 'Aku tidak menguasai hal itu. Siapa yang mengerti tentang hal itu?' Lalu dikatakan, 'Ibnu Abbas'."

Surat itu lalu dikirim kepada Ibnu Abbas, dan dia kemudian menulis surat (untuk menjawab pertanyaan) kepada Hiraklius, "Gravitasi adalah pengaman bagi penghuni bumi dari bahaya tenggelam. Rasi langit adalah pintu langit yang berguna untuk membukanya. Adapun lembah yang tak terkena cahaya matahari melainkan hanya satu jam dalam sehari, adalah laut yang menyelamatkan bani Israil."

Dalam atsar marfudar’i, Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه, ia berkata,

“Jika kalian mendengar petir, berdzikirlah kepada Allah, karena petir tidak akan mengenai ahli dzikir.” [HR. Imam Malik]

Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah

Penciptaan Seluruh Lapisan Langit Dengan Segala Tanda-Tanda Yang Ada Padanya

05 - Bintang

Allah menciptakan bumi terlebih dahulu sebelum menciptakan langit, sebagaimana firman-Nya:
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)
Imam al-Bukhari berkata (didalam kitab Shahihnya) tentang awal penciptaan makhluk, “Qatadah berkata mengenai firman Allah Ta’ala:
‘Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang….”‘ (QS. Al-Mulk: 5)
Allah menciptakan bintang-bintang tersebut untuk tiga hal: sebagai penghias langit, sebagai alat pelempar syetan, dan sebagai tanda untuk mengetahui arah.”‘
Barangsiapa yang membebankan dirinya menafsirkan selain dari yang tiga ini, yaitu berupa pengetahuan tentang hukum-hukum tertentu berdasarkan pada gerakan-gerakan yang ditunjukkan oleh bintang, menghubung-hubungkan satu peristiwa dengan perjalanannya, dan bahwa hal itu menunjukkan atas peristiwa-peristiwa bumi, maka ia salah. Kesalahan itu disebabkan perbincangan mereka mengenai ini umumnya penuh dengan dugaan dan prakiraan-prakiraan dusta serta klaim-klaim batil. Bintang-bintang yang ada semuanya berada di langit yang dekat.
Tidak ada masalah jika satu langit berada di atas langit yang lain, lalu langit yang dekat diistimewakan dari lapisan langit yang lain dengan hiasan bintang-bintang. Wallahu a’lam.
Alangkah indahnya bait syair milik Zaid bin ‘Amr bin Nufail yang dipaparkan oleh al-Imam Muhammad bin Ishaq di awal kitab sirah, yang menceritakan tentang penciptaan langit, bumi, matahari, bulan, dan lainnya.
Ibnu Hisyam berpendapat bahwa bait-bait syair tersebut adalah milik Umayyah bin Abi ash-Shalt. Berikut syairnya:
“Kepada Allah aku persembahkan segenap pujian dan sanjunganku serta ucapan yang teguh dada henti sepanjang masa.
Aku memohon rahmat-Mu, ya Allah. Sesungguhnya Jin adalah tumpuan harapan mereka, sedang Engkau adalah Tuhanku dan tumpuan harapanku.
Berkat karunia dan rahmat-Mu,
Engkau mengutus seorang rasul yang berseru kepada Musa.
Lalu Engkau berkata kepadanya: ‘Pergilah bersama Harun, serulah Fir’aun kepada Allah, yang ia telah melampaui batas.
Katakan kepadanya: ‘Apakah engkau yang meratakan (bumi) ini
Tanpa pasak hingga kokoh seperti kini?’
Katakan kepadanya: ‘Apakah engkau yang meninggikan (langit) ini tanpa tiang? Betapa hebatnya engkau sebagai pencipta!’
Katakan kepadanya: ‘Apakah egkau yang meratakan tengahnya (langit), sehingga ia bersinar menjadi petunjuk ketika malam tiba.’
Katakan kepadanya: ‘Siapakah yang menerbitkan matahari di pagi hari sehingga bumi yang disentuh memancarkan kemegahannya.’
Katakan kepadanya: ‘Siapakah yang menumbuhkan biji-bijian didalam tanah, lalu darinya (biji-bijian) menjadi tunas yang tumbuh di permukaan bumi, lantas darinya keluar bebijian di pucuk-pucuknya.’
Pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi siapa yang menyadari.
Engkau dengan segala karunia-Mu telah menyelamatkan Yunus yang tinggal di dalam perut ikan beberapa malam.
Wahai Tuhanku, karuniakanlah satu pemberian dan rahmat kepadaku serta berkatilah anak-anakku dan hartaku.”

Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah

Penciptaan al 'Arsy, Langit & Bumi, Lautan & Sungai-Sungai

PENCIPTAAN AL-’ARSY
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash, ia berkata:
“Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” [HR.Muslim 4797]
Beliau juga bersabda, “Dan ‘Arsy-Nya berada di atas air.” [HR.Muslim 4797]
Mereka berkata, “Takdir ini adalah catatan-Nya dengan al-Qalam (pena) seluruh takdir.”
Hadits ini menunjukkan bahwa penetapan takdir itu ada setelah penciptaan al ‘Arsy. Maka tetaplah bahwa penciptaan al-’Arsy itu lebih dahulu dibanding penciptaan al Qalam yang dengannya segala takdir ditulis. Demikian pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama.
Adapun hadits al-Qalam dibawa kepada makna bahwa ia adalah makhluk yang pertama yang ada di alam ini. Wallahu Subhanahu wa Ta’ala A’lam.
Berikut syair ‘Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu (mengenai al-’Arsy):
“Aku bersaksi bahwa janji Allah adalah haq.
Bahwa neraka itu hunian orang-orang kafir.
Bahwa al-’Arsy itu berputar di atas air.
Dan di atas al-’Arsy Rabb semesta alam.
Dia diusung oleh para malaikat yang mulia.
Para malaikat Ilah yang memakai tanda.”
PENCIPTAAN LANGIT & BUMI
01 - Langit Bumi
“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy….” (QS. Al-A’raf: 54)
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang kadar (lamanya) enam masa yang ada pada ayat di atas dalam dua pendapat: Mayoritas mereka berpendapat bahwa enam masa itu kadamya sama dengan hari-hari yang kita jalani ini. Sedangkan Ibnu ‘Abbas dan lainnya berpendapat bahwa masing-masing dari masa (hari) tersebut sebanding dengan seribu tahun hitungan kita.
PENCIPTAAN LAUTAN & SUNGAI-SUNGAI
03 - Sungai Eufrat
Sungai Eufrat
Para pakar astronom dan perbintangan memperbincangkan tentang berbilangnya lautan dan sungai-sungai besar, asal-usulnya, Sumber airnya, serta ke mana berakhimya aliran air tersebut dengan perbincangan yang di dalamnya mengandung hukum dan beragam petunjuk atas kekuasaan Allah Ta’ala.
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat sungai yang (airnya) dipancarkan dari surga, yaitu: Eufrat, Nil, Saihan, dan jaihan.”[HR.Imam Ahmad dalam Musnadnya 7229]
Seolah-olah yang dimaksudkan dari hadits ini -wallahu a’lam- bahwa sungai-sungai tersebut serupa dengan sungai-sungai yang berada di surga dalam hal kejernihan, ketawaran, dan cara mengalimya.
Bersambung Insyaallah..
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah

Tuesday, 1 April 2014

Ketabahan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam




Suatu hari, setelah Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdakwah di kabilah Ibnu Abdi Ya Lail bin Abdi Kulal dan beliau diusir, beliau begitu berduka dan gundah. Beliau berjalan gontai, hingga tiba di daerah Qarni Ats Tsa’alib.

Tiba-tiba beliau merasa ada awan yang menaunginya, sehingga beliau segera menengadah ke langit. Ternyata Malaikat Jibril menampakan dirinya dari balik awan dan segera menyapanya dan berkata:
إنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ قد سمع قولَ قومِك لك وما رَدُّوا عليكَ . وقد بعث إليك ملَكَ الجبالِ لتأمرَه بما شئتَ فيهم
Sejatinya Allah telah mendengar tanggapan dan sikap kaummu terhadap seruan dakwahmu. Karena itu Allah mengutus Malaikat penunggu gunung untuk engkau perintahkan sesuka hatimu
Segera Malaikat penungggu gunung menyapa aku dan berkata:
يا محمدُ ! إنَّ اللهَ قد سمِع قولَ قومِك لكَ . وأنا ملَكُ الجبالِ . وقد بعثَني ربُّك إليك لتأمرَني بأمرِك . فما شئتَ ؟ إن شئتَ أن أُطبقَ عليهم الأخشبَينِ
Wahai Muhammad! Allah telah mendengar tanggapan dan ucapan kaummu kepadamu, sedangkan aku adalah Malaikat yang ditugasi mengurusi gunung. Aku diutus untuk engkau perintahkan apa saja yang engkau suka. Bila engkau suka, niscaya aku akan timpakan dua gunung Akhsyabain kepada mereka
Mendapat penawaran ini, Nabi tidak merendah diri dan tidak membalaskan perasaannya. beliau menunjukkan sikap seorang yang memiliki jiwa besar. Beliau lebih memilih untuk memaafkan dan kemberi tangguh. Bahkan beliau membalas kejelekan dengan kebaikan.
Beliau menjawab tawaran Malaikat Penunggu gunung dengan bersabda,
بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Tidak, bahkan Aku sangat berharap semoga Allah melahirkan dari mereka orang-orang yang akan beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun
(HR. Bukhari – Muslim)
Begitu besar jiwa beliau, shallallahu alaihi wa sallam. Demikian juga ketika usai dari perang Uhud, yang padanya beliau terluka di wajah dan daninya, beliau juga membuktikan kebesaran jiwanya. Sambil mengusap darah dari wajahnya beliau berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ
Ya Allah, ampunilah ( jangan Engkau timpakan siksa yang membinasakan/beri tangguh) kaumku, karena sejatinya mereka adalah orang-orang yang tidak tahu‘ (Muttafaqun alaih)
Ya Allah, lapangkan dada kami untuk dapat meneladani akhlaq Nabi- Mu. Amiin.

Biografi Imam Al-Baihaqi






Imam Al Baihaqi adalah seorang ulama ahli fiqh, ushul fiqh, hadist, dan salah seorang ulama besar mazhab Syafi’i. Beliaulah penulis kitab Sunan Al Baihaqi yang terkenal itu.

Nama Beliau

Imam Al-Baihaqi bernama lengkap Imam Al-Hafizh Al-Muttaqin Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali bin Musa Al-Khusrauijrdi Al-Khurasani Al-Baihaqi. Baihaq adalah sejumlah perkampungan di wilayah Naisabur. Beliau adalah seorang ulama besar dari Khurasan (desa kecil di pinggiran kota Baihaq) dan penulis banyak kitab terkenal.

Kelahiran Beliau

Al-Baihaqi lahir di bulan Sya’ban tahun 384 H yang bertepatan dengan bulan September 994 Masehi1. Lahir di desa Khusraujirdi, termasuk daerah Baihaq, Naisabur.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Imam Al-Baihaqi hidup pada masa Daulah Al-‘Abbasiyah. Beliau mengembara mencari ilmu ke Khurasan, Irak, dan Hijaz. Dalam Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi bercerita tentang perjalanan Imam Al-Baihaqi dalam menuntut ilmu. Beliau mengatakan bahwa Imam Al-Baihaqi ketika berusia 15 tahun telah mendengar dari Abu Al-Hasan Muhammad bin Al-Husain Al-Alawi, sahabat dari Abu Hamid bin Asy-Syarqi dan beliau adalah guru yang paling dahulu bagi Imam Al-Baihaqi. Beliau luput dari menyimak secara langsung dari Abu Nu’aim Al-Isfarayini, sahabat Abu ‘Uwanah, dan meriwayatkan darinya secara ijazah mengenai jual beli. Beliau juga mendengar dari Imam Al-Hakim Abu Abdillah Al-Hafizh lalu memperbanyak riwayat darinya dan lulus darinya.2

Guru Beliau

Beliau berguru kepada ulama-ulama terkenal dari berbagai negara. Beliau harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan untuk bisa menghadiri majelis ilmu tersebut. Di antara guru-gurunya adalah sebagai berikut:
  1. Imam Abul Hassan Muhammad bin Al-Husain Al-Alawi
  2. Abu Abdillah Al-Hakim, pengarang kitab Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain
  3. Abu Tahir Az-Ziyadi
  4. Abu Abdur-Rahman Al-Sulami
  5. Abu Bakr bin Furik
  6. Abu Ali Al-Ruthabari
  7. Hilal bin Muhammad Al-Hafar
  8. Ibnu Busran
  9. Al-Hasan bin Ahmad bin Farras
  10. Ibnu Ya’qub Al-Ilyadi, dll.

Murid-Murid Beliau

Dalam kitab Siyar A’lamin Nubala (18/169), Imam Adz-Dzahabi mengatakan bahwa di antara perawi yang meriwayatkan dari beliau adalah:
  1. Syaikhul Islam Abu Ismail Al-Anshari dengan ijazah
  2. Putranya sendiri: Ismail bin Ahmad bin Al-Husain
  3. Cucu beliau: Abu Al-Hasan bin Ubaidillah bin Muhammad bin Ahmad
  4. Abu Zakariya Yahya bin Mandah Al-Hafidz
  5. Abu Ma’ali Muhammad bin Ismail Al-Farisi
  6. Abdul Jabbar bin Abdul Wahhab Ad-Dahhan
  7. Abdul Jabbar bin Muhammad Al-Khuwairi
  8. Abdul Hamid bin Muhammad Al-Khuwairi
  9. Abu Bakar Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Al-Bahiri, dll.

Pujian Ulama Kepada Beliau

Imam Al-Haramain mengatakan, “Tidak ada satu pengikut Asy-Syafi’i pun melainkan Asy-Syafi’i memiliki jasa kepadanya, kecuali Al-Baihaqi, karena dia berjasa kepada Asy-Syafi’i berkat karya-karyanya yang berisikan pembelaan terhadap mazhabnya dan pendapat-pendapatnya.”3
At-Taj As-Subki mengatakan, “Imam Al-Baihaqi adalah salah satu imam kaum muslimin dan penyeru kepada tali Allah yang kukuh. Beliau adalah penghafal besar, ahli ushul yang tiada bandingnya, zuhud, wara’, taat kepada Allah, membela mazhab, baik ushul maupun furu’-nya, salah satu bukit ilmu.”4
Abdul-Ghaffar Al-Farsi Al-Naisaburi dalam bukunya “Dzail Tarikh Naisaburi” memuji imam Al-Baihaqi setinggi langit dengan mengatakan, “Abu Bakr Al-Baihaqi Al-Faqih Al-Hafizh Al-Ushuli Ad-Din Al-Wari’, orang nomor satu pada zamannya dalam hal hafalan, orang yang tiada bandingannya di antara para sejawatnya dalam hal kesempurnaan dan ketelitian, salah satu pemuka murid Al-Hakim, dan dia mengunggulinya dengan berbagai macam ilmu. Beliau menulis hadis, menghafalkannya semenjak kecil, mendalaminya, serta menguasainya. Beliau mengambil ilmu ushul dan melakukan perjalanan menuntu ilmu ke Irak, daerah berbukit dan Hijaz, kemudian menulis karya ilmiah. Karyanya hampir mencapai seribu juz, yang belum pernah didahului oleh seorang pun sebelumnya. Beliau menghimpun ilmu hadis dan fikih, menjelaskan tentang ‘illat hadis dan meninjau tentang perbedaan-perbedaan hadis-hadis. Para ulama meminta beliau untuk berpindah dari daerah An-Nahiyah ke Naisabur untuk mendengar kitab-kitabnya. Beliau pun datang padatahun 314 H, lalu mereka bermajelis untuk mendengarkan kitab Al-Ma’rifah dan para ulama menghadirinya. Dia mengikuti jalan ulama, merasa puasdengan yang sedikit.”5
Imam Adz-Dzahabi pun memuji beliau dengan mengatakan, “Seandainya Al-Baihaqi mau membuat madzhab untuk dirinya di mana dia berijtihad, niscaya dia mampu melakukannya karena keluasan ilmu dan pengetahuannya tentang perselisihan ulama. Karena itu, kalian melihatnya membela permasalahan-permasalahan yang didukung oleh hadis sahih.”6

Akhlak Beliau

Ibnu ‘Asakir berkata, Syekh Abu Al-Hasan Al-Farisi berkata, “Al-Baihaqi berjalan di jalan para ulama,qana’ah terhadap yang sedikit, dihiasi dengan zuhud dan wara’,serta tetap seperti demikian sampai meninggal.”7
Ibnu Katsir berbicara tentang akhlak beliau, “Al-Baihaqi adalah orang yang zuhud dan menerima sesuatu yang sederhana, banyak beribadah dan wara’.”8

Karya Beliau

Sejumlah kitab penting telah ditulisnya dan mempunyai nilai tinggi di sisi para ulama-ulama setelahnya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa karyanya mencapai seribu jilid9. Kitab-kitab karangan beliau pun mempunyai keistimewaan dibandingkan yang lainnya, karena diurutkan dengan urutan yang begitu teliti dan cermat dan tidak ada yang seperti beliau. Karena itu tidak ada yang seperti beliau sebelumnya (10). Di antara karya beliau:
  1. Kitab As-Sunan Al-Kubra dalam 10 jilid
  2. Kitab Syu’ab Al-Iman dalam 2 jilid
  3. Kitab Dala’il An-Nubuwwah dalam 4 jilid
  4. Kitab Al-Asma wa Ash-Shifat dalam 2 jilid
  5. Kitab Ahkam Al-Qur’an dalam 2 jilid
  6. Kitab Takhrij Ahadits Al-Umm
  7. Kitab Al-Ma’rifat fi As-Sunan wa Al-Atsar dalam 4 jilid
  8. Kitab Al-Mu’taqad dalam 1 jilid
  9. Kitab Al-Ba’tswa An-Nusyur dalam 1 jilid
  10. Kitab At-Targhib wa At-Tarhib dalam 1 jilid
  11. Kitab Nushus Asy-Syafi’i dalam 2 jilid
  12. Kitab As-Sunan Ash-Shaghir dalam 1 jilid besar
  13. Kitab Al-Madkhal ila As-Sunan dalam 1 jilid
  14. Kitab Fadhail Al-Auqat dalam 2 jilid
  15. Kitab Manaqib Asy-Syafi’i dalam 1 jilid dan masih banyak lagi yang lainnya.

Meninggalnya Beliau

Imam al-Baihaqi meninggal pada hari Sabtu di Naisabur, Iran, tanggal 10 Jumadil Ula 458 H (9 April 1066 M). Dia lantas dibawa ke tanah kelahirannya yaitu Baihaq dan dimakamkan di sana. Beliau hidup selama 74 tahun.
**
Daftar Pustaka:
  1. Al-Baihaqi wa Mauqifuhu min Al-Ilahiyyat. DR. Ahmad Al-Ghamidi.
  2. Al-Madkhal ila As-Sunan Al-Kubra. Imam Al-Baihaqi. Adhwa As-Salaf.
  3. Siyar A’lam An-Nubala. Imam Adz-Dzahabi. Dar al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
  4. Tadzkirah Al-Huffadz. Imam adz-Dzahabi. Dar al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
  5. Thabaqat Asy-Syafi’iyyah. Taajuddin as-Subki. DarIhyaKutub Al-‘Arabiyyah.
  6. Min A’lami As-Salaf. Syekh Ahmad Farid. Dar Al-‘Aqidah.
Catatan Kaki
1 Al-Madkhal ila As-Sunan Al-Kubra hal. 18 oleh Imam Al-Baihaqi.
2 Siyar A’lam An-Nubala (18/164) oleh Imam Adz-Dzahabi
3 Thabaqat Asy-Syafi’iyyah (4/10) oleh Tajuddin As-Subki
4 Thabaqat Asy-Syafi’iyyah (4/8) oleh Tajuddin As-Subki
5 Tadzkirah Al-Huffadz (3/1133 oleh Imam Adz-Dzahabi
6 Siyar A’lam An-Nubala (18/169) oleh Imam Adz-Dzahabi
7 Tabyinu KadziAl-Muftar hal. 266. Lihat Al-Madkhal ila As-Sunan Al-Kubra hal. 20
8 Al-Bidayahwa An-Nihayah (912/94) oleh Imam IbnuKatsir. Lihat Al-Madkhalila As-Sunan Al-Kubrahal.20
9 Thabaqat Al-Huffadz, hal. 434 oleh Imam As-Suyuthi
10 Al-Bidayah wa An-Nihayah (12/94) oleh Ibnu Katsir. Lihat juga Mukhtashar Thabaqat Al-Muhadditsin hal. 200 oleh Ibnu ‘Abdil Hadi